Makassar Titik-Terang .com -Surplus neraca pembayaran tahun 2024 meningkat ke level USD7,2 miliar (2023: USD6,3 miliar). hal ini diungkap dalam pemapaan kondisi Anggaran pendapatan dan Belanja Negara .13 Maret 2025 di Jakarta
Kontribusi utama berasal dari peningkatan surplus neraca transaksi modal dan finansial (aliran modal di SBN,saham, dan SRBI 2024 surplus Rp216 T)
Dari hasil konfrensi pers ,Industri. Makanan & Minuman tumbuh 5,9% (Q4: 6,4%) didorong permintaan domestik, sementara
Logam Dasar dan Elektronika tumbuh masing-masing 13,3% (Q4: 7,4%) dan 6,2% (Q4: 10,3%)
ditopang ekspor hilirisasi serta permintaan luar negeri.
➢ Penguatan industri kunci penting untuk dorong manufaktur. Pada 2024, ind. kimia tumbuh 5,9%
(Q4: 4,5%). Sedangkan Ind. TPT dan Alas Kaki mulai pulih, yaitu masing-masing tumbuh 4,3% (Q4:
7,2%) dan 6,8% (Q4: 9,2%), didorong permintaan domestik dan ekspor. Sampai dengan Januari
2025 ekspor alas kaki tumbuh 17,0% (yoy)
Efisiensi Pemerintahan Efisiensi Anggaran
EFISIENSI BELANJA DALAM PELAKSANAAN APBN & APBD TA 2025
BELANJA K/L Rp256,1 T
EFISIENSI TKD Rp50,6 T
Anggaran harus digunakan secara efisien, sehingga dapat digunakan untuk belanja yang betul-betul
prioritas
• Efisiensi Anggaran dicapai dengan “menyisir” berbagai belanja seperti perjalanan dinas, ATK, seminar,
kajian, acara seremonial &
peringatan, dll.
• Dilaksanakan untuk seluruh K/L (99 Bagian Anggaran / BA).
• Pencadangan TKD dan Efisiensi APBD untuk prioritas nasional.
Pertumbuhan Ekonomi
Di tengah stagnasi global, ekonomi domestik 2024 tumbuh 5,03% didukung permintaan domestik yang kuat, inflasi yang terkendali, dan penciptaan lapangan kerja baru.
Laju Inflasi Inflasi masih bergerak rendah dipengaruhi program diskon listrik, namun diperkirakan normalisasi. Harga pangan terus dikendalikan, terutama dalam menghadapi Ramadan dan Lebaran. Berbagai langkah kebijakan penurunan tarif angkutan lebaran, toll menjelang Lebaran diperkirakan berkontribusi besar dalam pengendalian inflasi.
Nilai Rupiah dan Yield SBN Nilai tukar masih dibayangi volatilitas pasar global. Yield SBN
stabil dan terjaga pada level yang kompetitif. Potensi risiko dinamika global terhadap pasar keuangan domestik terus diwaspadai dan dimitigasi Harga Minyak Mentah Indonesia. Faktor geopolitik masih sangat memengaruhi pergerakan harga minyak ke depan. Harga cenderung menurun dipengaruhi masih lemahnya demand dan sentimen kebijakan AS. OPEC+ akan mempertimbangkan kembali pemotongan
produksi. Lifting Migas Lifting migas dioptimalkan melalui peningkatan investasi dan
pengembangan teknologi.
Dan inilah Kondisi keungan Republik Indonesia di Triwulan pertama
PENDAPATAN NEGARA Rp316,9 T
BELANJA NEGARA Rp348,1 T
DEFISIT APBN Rp31,2 T (0,13% PDB)
Surplus Keseimbangan Primer Rp48,1 T
(*)










